Saturday, June 17, 2006

MD Kartaprawira: Re: Menyongsong Kongres Persatuan GMNI

INDONESIA BERJUANG, 17.06.2006
http://indonesia-berjuang.blogspot.com

Re: Menyongsong Kongres Persatuan GMNI

Mudah-mudahan para pimpinan GMNI kelak teguh memegang ajaran
Marhaenisme Bung Karno. Hanya dengan demikian arah dan
tujuan organisasi dapat mencapai tujuan yang benar.
Saya kira GMNI setelah Kongres Pangkal Pinang 26 Juni mendatang
hendaknya menyadari perlunya manajemen modern dan tidak
tanggung-tanggung mendekati rakyat kecil (Marhaen) dengan turba
(turun kebawah), yang dengan demikian membuktikan kepeduliannya
kepada rakyat kecil: buruh, tani, nelayan, guru, pemulung, pengamen dll.
Tanpa demikian, GMNI hanya akan menjadi organisasi salon yang
berteriak-teriak dan ongkang-ongkang di belakang bangku kerja saja.

Hidup GMNI, Marhaen Menang!!!

MD Kartaprawira
17.06.2006


----- Original Message -----
From: "Bung Roy" <syailendhra@yahoo.com>
Sent: Saturday, June 17, 2006 10:26 PM
Subject: Menyongsong Kongres Persatuan GMNI
Tak sampai dua minggu lagi, sebuah perhelatan organisasi GMNI akan di gelar. Sebuah forum tertinggi yang niscaya bernilai sejarah, sebab dua kubu yang dihasilkan oleh dinamisnya organisasi mahasiswa extra-universiter ini telah berkomitmen untuk kembali bersatu dalam sebuah kongres persatuan GMNI, yang akan dilaksanakan di Pangkal Pinang, 26 Juni 2006 mendatang.

GMNI yang lahir dari ruh Marhaenisme ajaran Bung Karno, telah menjadi bagian penting dalam sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia. Terbentuk pada 24 Maret 1954 oleh hasil fusi dari tiga organisasi Mahasiswa berhaluan Nasionalis, GMNI telah mengalami pasang surut organisasi yang secara massif justru semakin memperkukuh eksistensi gerakan dan mempertinggi komitmen kebangsaan bagi kader-kadernya. Dengan demikian, GMNI menempatkan diri sebagai organisasi mahasiswa independent yang ada di garda depan barisan kaum Marhaen.

Sebagai organisasi mahasiswa yang progressive revolusioner, GMNI senantiasa dituntut untuk mempersiapkan kader-kader "Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang" yang kelak dapat menjadi pemimpin-pemimpin yang konsisten memperjuangkan kesejahteraan rakyat (Marhaen) dan karenanya kebutuhan akan manajemen organisasi yang modern menjadi sebuah keharusan.

Beberapa parameter manajemen organisasi modern antara lain profesionalitas kepemimpinan di semua jenjang, visi manajerial yang jelas dan terarah, solid dan relatif terbebas dari political of interest yang kontraproduktif bagi kinerja organisasi.

Pertanyaannya, siapakah yang akan mengemban tugas mulia organisatoris sebagai pucuk pimpinan GMNI kedepan? Sebaiknya ia haruslah dari kaum muda yang enerjik,mempunyai visi yang jelas dan komitmen tinggi terhadap organisasi GMNI, serta yang paling penting; relatif bebas dari political interest tsb.

Kami mengenal seorang kader GMNI yang kami pandang> mempunyai kapabilitas untuk memimpin GMNI kedepan dan dengan ini mendukungnya untuk suksesi kepemimpinan GMNI pada Kongres Persatuan di Pangkal Pinang nanti. Dia adalah Bung Rendra Falentino, yang kini memimpin GMNI cabang Depok.

Kami sangat berterima kasih atas segala bentuk dukungan dari kader, simpatisan, dan berbagai pihak untuk Bung Rendra Falentino. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan rahmat dan Hidayahnya kepada Bangsa Indonesia dan memberkahi perjuangan kawan-kawan GMNI.

Merdekaa!
GMNI Jaya! Marhaen menang!


PS:
Anda kami undang mampir di web INDONESIA BERJUANG
http://indonesia-berjuang.blogspot.com

INDONESIA BERJUANG sebagai media GERPINDO (Gerakan Patriot Indonesia) di luar negeri terbit sejak tahun 1969. Di dalam GERPINDO bergabung pejuang-pejuang Nasionalis-Pancasilais, Marhaenis dan Pendukung Politik Bung Karno melawan politik Orde Baru Suharto.

Terima kasih,MD Kartaprawira
17.06.2006

Moch Arief Makruf: PEREBUTAN WACANA IDEOLOGIS

www.korwilpdip.org

Catatan Redaksi:

Di bawah ini kami muat tulisan Bapak Moch. Arief Makruf "Perebutan Wacana Ideologis" yang menguraikan bagaimana lahir dan berkembangnya 3 ideologi yaitu : komunisme, nasionalisme dan islamisme dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Tulisan Bapak Moch. Arief Makruf berjudul "Perebutan Wacana Ideologis" ini bukan merupakan pandangan redaksi. Meskipun demikian, redaksi berpendapat pemuatan tulisan penulis seutuhnya akan dapat mendorong adanya pertukaran pikiran dalam memahami wacana ideologi yang berkembang dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan tentunya yang lebih penting lagi adalah bagaimana mengatur interaksi antara ketiga ideologi tersebut agar dapat memainkan peranan positif bagi bangsa Indonesia ke depan.

Kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Moch. Arief Makruf, yang selain tulisan ini juga telah mengirim tulisan berjudul „NASIONALISME DAN ISLAMISME”, yang juga telah dimuat di website ini.

Kami mengharapkan sumbangan pemikiran dari pembaca ! Sekaitan ini kami buka rubrik „Forum Pembaca”.

Redaksi.

-------

PEREBUTAN WACANA IDEOLOGIS

Oleh Moch. Arief Makruf

Pergerakan rakyat Indonesia menuju kearah kemerdekaan diwarnai oleh berbagai wacana Ideologis yang memilki akar sendiri-sendiri. Perlu di garisbawahi kemerdekaan disini bukanlah perjuangan kedaerahan atau sektarian namun perjuangan menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini bukan bermaksud merendahkan perjuangan para Pahlawan di berbagai daerah. Hanya perlu diakui bersama menyadarkan sebagai bangsa dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia jauh lebih rumit, sebab masyarakatnya yang bersifat Pluralistik. Untuk itu dibutuhkan suatu ideologi yang dapat mengikat secara emosional. Pertimbangan inilah yang membuat para pemimpin bangsa ini berusaha keras untuk mendapatkan suatu Ideologi yang dapat menembus batas-batas Kultural. Wacana ini berkembang sekitar 1900, disaat para pemimipim bangsa ini banyak belajar diluar negri.
Kebangkitan organisasi-organisasi yang berusaha mengakomodasikan kepentingan-kepentingan yang lepas dari tembok-tembok Kedaerahan mulai merebak. Dengan berdirinya perkumpulan Budi Utomo pada tahun 1908 sebagai tonggak awal. Kemunculan organisasi selanjutnya, semakin menunjukkan akan pentingnya suatu negara yang diatur oleh bangsanya sendiri.
Sampai pada akhirnya tahun 1926, PKI melancarkan pemberontakan yang pertama yang tidak berdasarkan semangat kedaerahan yang dalam sejarahnya terkenal dengan Pemberontakan Jawa. Pemberontakan ini jelas menginginkan pengelolaan negara oleh rakyatnya sendiri. Pemberontakan ini di awali dengan sebuah Konfrensi yang berlangsung di candi Prambanan pada tanggal 25 Desamber 1925. Pemberontakan yang dimotori antara lain oleh Sardjono, Budisutjitro, sogono, suprodjo, Kusnogunoko, marco dan lain-lain, dimulai pada tanggal 12 November 1926 di kota Jakarta. kemudian menyebar ke daerah Tangerang, Banten, Tjisarua, Banyumas, Surakarta, Pekalongan, Kediri, dan lain-lain. Melebar sampai kepulau Sumatra. Di pulau Sumatra pemberontakkan di mulai pada tanggal 2 Januari di daerah Silungkang menyebar ke Sawah lunto, Padang, Solok, Kabun dan lin-lain.
Walaupun gagal, pemberontakan ini menunjukan kepada rakyat Kekuasaan Kolonial Belanda yang kelihatanya kokoh ternyata dapat juga dilawan, digoncangkan sekaligus ditumbangkan. Kesadaran akan pentingnya negara yang mengatur rakyatnya sendiri semakin meningkat, dari sinilah timbul suatu pemikiran betapa pentingnya penyatuan sikap dan gerak yang mengarah kepada Ideologi suatu bangsa.
Pemberontakan yang gagal benar-benar menghancurkan Organisai PKI. Pengikutnya banyak di buang di Digul dalam waktu yang tidak terbatas, sedangkan yang berada diluar negeri tidak berani pulang. Kekosongan Organisai berwatak kebangsaan yang meninginkan indonesia merdeka segera di isi oleh organisasi-organisai kebangsaan yang awalnya sangat Moderat. Kecurigaan penguasa negeri belanda terhadap organisasi kebangsaan yang ada, mengakibatkan organisasi yang mulanya moderat berubah menjadi Radikal.
Kemunculan Soekarno - Hatta yang telah berhasil memimpin negara Republik Indonesia benar-benar menyudutkan Organisasi PKI yang telah membuka jalur kemerdekaan. Keadaanya semakin tidak menentu tatkala rakyat indonesia telah dibawah kaki Bung Karno dengan ideologi yang berbeda. Hal ini mengakibatkan kekecewaan dikalangan PKI, mereka merasa perjuangan yang dilakukan tidak ada gunanya. Menyadari keadaan ini maka genderang perang Ideologi dimulai. Inilah awal dari pertentangan ideologi Nasionalis berhadapan dengan Ideologi Komunis.
Kedatangan para Eks Digulis dan para aktivis Komunis yang berada diluar negeri menambah pertarungan yang semakin sengit. Mereka masih menganggap diri mereka sebagai senor dibandingkan Soekaerno- Hatta yang tidak meraup pengalaman Internasional. Sedangkan kelompok Bung karno-Hatta merasa bahwa merekalah yang tahu banyak tentang watak bangsa ini. Hal ini terbukti dengan adanya proklamasi yang tidak mendapatkan protes dari seluruh rakyat Indonesia.
Kedatangan Muso dari luar Negeri pada tanggal 13 agustus 1948 mendapatkan sambutan yang luar biasa dari Bung Karno. Muso adalah seniornya Bung Karno ketika sama-sama indekost di rumah Hos Cokroaminoto. Pertemuan keduanya sangat mengharukan walaupun menyimpan bara api yang sama panasnya. Bung Karno memeluk Muso dan Muso memeluk Bung Karno, mata berlinang. Kegembiraan ketika itu tidak dapat di terangkan dengan kata-kata. Sebelum berpisah Bung Karno minta supaya Pak Muso memperkuat negara dan melancarkan Revolusi. Muso menjawab " sudah kewajiban saya."
Sesudah berpelukan dan bercucuran air mata di Istana Presiden, pada tanggal 19 september 1948 Muso melancarkan Revolusi di dalam Revolusi. Yang didalam sejarah lebih terkenal dengan pemberontakan PKI Madiun 1948. Pertarungan ideologis telah memakan anaknya sendiri. Padahal dalam benak mereka hanyalah demi kejayaan dan kebesaran tanah air.

* * *

Pertarungan dua Idelogis akan bertambah lagi setelah kebangkitan organisai-organisasi Islam. Salah satu organisasi ini adalah NU yang berdiri pda tahun 1926. Organisasi ini berdiri berawal dari respon keras terhadap Islam Reformis. Namun pada akhirnya menjelajah kedunia politik dengan menambah wacana Ideologis dengan ikut bergabung bersama Masyumi. Walaupun Akhirnya berpisah karena alasan-alasan awal pendirianya.
Awal berkiprahnya NU dalam Politik (idelogis ) di awali pada Muktamar ke-15 yang diadakan di Manas ( Banten ) 1938, sebagian anggotanya mengusulkan agar NU mendudukan wakilnya di Volksraad. Hal ini diperkuat lagi dengan sebelumnya pada tahun 1937 KH Machfoezh Siddiq menerbitkan buku penting yang dapat mendamaikan dua kubu, yaitu kaum tradisional dan kaum pembaharu. Rekonsiliasi dua kubu ini terwujud, dengan berdirinya MIAI ( Majelis Al Islami Al-A'ala Indonesia ) yang pada perkembangan selanjutnya organisasi ini berubah menjadi MASYUMI ( Majelis Syuro Muslimin Indonesia )pada November 1943. Dan pada November 1945 organisasi ini berubah menjadi Partai Politik.
Kehadiran ideologi Islam dalam perebutan wacana Ideologis semakin jelas tatkala pada awal tahun 1953 Bung Karno berbicara keras terhadap gagasan negara Islam yang dapat membawa pada Sparatise dikalangan Etnik Indonesia Non Muslim. Bukan hanya Masyumi yang memprotes tetapi juga NU dan organisasi lainya. NU secara khusus keberatan terhadap asumsi Soekarno bahwa pemerintahan Islam tidak akan mampu memelihara persatuan.
Dan pada Pemilu I yahun 1955 dapat dibayangkan pertarungan Ideologi Nasionalis, Komunis dan Agama yang sangat sengit. Ketiga Ideologi inilah yang sangat dominan dalam pemilu tahun 1955. Hal ini dapat dilihat pada komposisi suara yang diberikan oleh rakyat Indonesia pada waktu itu. PNI mendapatkan 22,3 %, Masyumi mendapatkan 20,9 %, NU mendapatkan 18,4 % dan PKI mendapatkan 16,4 %.
Pertempuran Ideologi diluar parlement akhirnya terulang kembali. Ketika pada tahun 1965 PKI gagal melakukan usaha perebutan kekuasaan. pembantaian orang-orang komunis seperti diwajarkan. Ribuan orang menjadi tumbal. Pertarungan Ideologis memakan anaknya sendiri.
Akhir dari tragedi 1965 melahirkan Orde baru dan Soeharto diangkat sebagai presiden baru. Pemerintah yang baru berusaha menghilangkan ideologi-idelogi besar yaitu Komunis, nasionalis dan agama agar pembangunan berjalan lancar. Setelah Idelogi Komunis dan Nasionalis dapat dijinakkan maka tinggal Ideologi agama yang menunggu giliran. Dengan berteduh dibawah Burung Garuda perangpun digelar. Pada awal tahun 1980 pemerintah menyerang semua kelompok di Tanah Air yang tampak memusuhi pancasila, yang justru berpegang pada Ideologi Agama, Marhaen atau Komunis. Dengan mengancam akan menggunakan kekuatan Angkatan Bersenjata. Ancaman ini jelas ditujukan kepada Ideologi agama, sebab ideologi yang lainya telah lama dimatikan lebih dahulu.
Sebagai konsekwensi logis pandangan ini diumumkan pada tahun 1983 dan di undang-undangkan pada tahun 1985: Semua Partai Politik dan Organisasi Kemasyarakatan diharuskan menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas Ideologis.
Kebijaksanaan ini efektif, pembangunan berjalan dengan lancar. Tapi kekuasaan bertumpuk-tumpuk pada satu tangan. Pancasila telah diperkosa sehingga melahirkan anak-anak haram penguasa negeri ini. Dan pada akhirnya digugat pada Era reformasi. Pemerintah melakukan kajian Pancasila sendiri, dijalani sendiri dan dikagumi sendiri. Perjuangan bersama-sama menumbangkan sebuah rezim otoriter dengan tidak mempermasalahkan Idelogi, tidak bertahan lama tatkala berurusan dengan kekuasaan negara. Pertarungan Ideologi Nasionalis dan Agama segera akan dimulai.

* * *

Lepasnya Idelogi Pancasila hasil pemerkosaan Orde Baru memancing timbulnya berbagai Ideologi lama ( Kecuali Komunis yang tak bisa Exis sebab Tap MPR mengenai Komunis belum di cabut). Idelogi ini berkelana mencari pengikutnya yang hampir 32 tahun tercerai berai. Walaupun demikian pertarungan dua Idelogi Agama dan Nasionalis tidak kalah serunya.
Pemilu di Era Reformasi sebagai bukti yang nyata sengitnya pertarungan dua Idelogi ini. Hal ini semakin terlihat tatkala hasil dari perolehan suara tidak menunjukkan salah satu partai mendapatkan hasil mayoritas.Walaupun pertarungan Ideologi belum mengarah pada penggantiam Ideologi,hal ini erat kaitanya dengan masih adanya musuh bersama yaitu sisa Rezim Orde baru.
Tetapi pertarungan Ideologi semakin terbuka ditingkat akar rumput tatkala bukan hal yang menakutkan lagi penggunaan sebuah Ideologi diluar Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Jika Hal ini dibiarkan maka akan meluas kepada penggunaan Ideologi tertentu dalam kehidupan berbangsa.
Sebuah gerakan Parlement diera Reformasi terhadap amandemen pasal 29 adalah salah satu bentuk perebutan Ideologis. Walaupun pada akhirnya mayoritas anggota MPR menolak terhadap Amademen pasal 29 adalah sebuah langkah yang bersifat sementara, sebab keadaan negara sedang menghadapi perpecahan. Sehingga dibutuhkan semangat persatuan yang menghilangkan sebanyak mungkin perbedaan-perbedaan yang ada. Tetapi siapakah yang akan menjamin pertarungan dua Ideologi ini tidak keluar dari Parlement ?
Dengan melihat sejarah negeri ini, betapa berdarahnya pertarungan Ideologi sudah selayaknya difikirkan Ideologi Pancasila baru yang dapat mengakomodasikan kepentingan seluruh rakyat indonesia. Sebab dimanapun juga didunia ini sebuah organisasi memerlukan dogma tidak terkecuali agama sekalipun, karena dogma dapat menjadikan setiap orang akan mendapatkan perlakuan yang sama. Didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dogma diwujudkan dalam Ideologi kebangsaan yang mengakomodasikan berbagai unsur yang ada dimasyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

Djojoprajitno, Sudyono
PKI - Sibar Conta Tan Malaka ( Pemberontakan 1926 dan Kambing Hitam Tan Malaka )
April, 1962

Effendi, Roestam
Demokrasi dan Demokrasi, Perintis, 1 Desember 1949

Soe Hok Gie
orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, Bentang, Juli 1997

Van Bruinessen, Martin
Nu Tradisi Relasi Pencarian Wacana Baru, LKIS, 1994


P.S.:

Tulisan Moch Arif Makruf tersebut di atas juga bisa dibaca di;
INDONESIA BERJUANG http://indonesia-berjuang.blogspot.com

INDONESIA BERJUANG sebagai media GERPINDO (Gerakan Patriot Indonesia)
di luar negeri terbit sejak tahun 1969.
Di dalam GERPINDO bergabung pejuang-pejuang Nasionalis-Pancasilais, Marhaenis
dan Pendukung Politik Bung Karno melawan politik Orde Baru Suharto.

Terima kasih,
MD Kartaprawira
17.06.2006

Friday, June 16, 2006

HASTA PRASETYA KADER PDI PERJUANGAN DI LEGISLATIF DAN EKSEKUTIF

HASTA PRASETYA KADER PDI PERJUANGAN DI LEGISLATIF DAN EKSEKUTIF

Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia ;
Membebaskan biaya berobat bagi Rakyat sesuai kemampuan keuangan daerah ;
Membebaskan biaya pendidikan Rakyat sesuai kemampuan keuangan daerah ;
Memperkuat ekonomi Rakyat melalui penataan sistem produksi, reformasi agraria, pemberian proteksi, perluasan akses pasar, dan permodalan ;
Memperkokoh kegotong-royongan Rakyat dalam memecahkan masalah bersama ;
Mereformasi birokrasi pemerintahan dalam rangka membangun tata kepemerintahan yang baik, bebas dari KKN ;
Memberikan pelayanan umum secara pasti, cepat dan murah ;
Menyediakan perumahan yang sehat dan layak bagi Rakyat.

Sumber: Fraksi PDI Perjuangan DPR RI

Moch Arif Makruf: NASIONALISME DAN ISLAMISME

www.korwilpdip.org

NASIONALISME DAN ISLAMISME
Moch Arif Makruf

Di era globalisasi sekarang ini, segala macam bentuk Ideologi dunia dengan cepat menyebar keseluruh pelosok dunia dalam hitungan detik. Penemuan-penemuan Teknologi baru yang serba modern telah menyulap sebuah dunia yang luas menjadi sejengkal. Sebuah Negara yang belum mempunyai konsepsi yang kokoh ataupun sama sekali belum mempunyai konsepsi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi terombang-ambing oleh derasnya perkembangan Ideologi dunia. Negara-negara maju yang telah mempunyai semua sumber daya berusaha menaklukan dunia. Mereka bukan hanya akan menjajah secara ekonomi maupun militer tetapi akan memberikan sebuah wacana baru dalam memahami sebuah dunia yang modern. Kemajuan-kemajuan dunia yang tidak merata diseluruh dunia melahirkan pendominasian-pendominasian. Titik paling akhir dari semua ini adalah penjajahan Ideologi suatu Negara terhadap Negara lain.
Kemajuan Teknologi barat yang hampir menguasai segala bidang melahirkan resistensi dari berbagai Ideologi dunia untuk mengamankan kepentinganya dengan melakukan kerja sama lintas Negara. Sikap persatuan antar Negara berkembang menjadi sesuatu yang mutlak untuk dilaksanakan dalam mengatasi sebuah kejutan budaya yang diakibatkan oleh globalisasi dunia dalam satu warna. Ketergantungan akan kemajuan dunia adalah sebuah kebutuhan yang tidak mungkin ditunda lagi. Tetapi menyerahkan sebuah budaya atau karakter suatu bangsa adalah menghilangkan sebuah citra suatu bangsa yang dengan sendirinya akan menghilangkan wajah suatu bangsa dalam kehidupan Internasional.
Sebuah bingkai nasionalisme akan menjadi sebuah batas yang harus ditarik secara tegas sebagai sebuah benteng terakhir dari cagar budaya dalam menghadapai derasnya globalisasi. Memperkuat posisi kedalam dahulu sebelum ikut memberikan sumbangan kepada dunia Internasional mengenai sebuah pertarungan Ideologi dunia menjadikan suatu bangsa memiliki sebuah pondasi yang kuat untuk tidak terseret dalam pertarungan Ideologi dunia yang merugikan kepentingan nasional.
Indonesia yang baru saja melaksanakan sebuah bentuk Demokrasi yang baru pada tahap selanjutnya akan membentuk sebuah budaya baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia telah kembali pada tahun 1900-an dimana nasionalisme sedang mencari bentuknya.Dalam era globalisasi Ideologi-Ideologi dunia dengan cepat akan datang silih berganti dengan membonceng pada kesenian,ekonomi maupun militer untuk menguji Nasionalisme bangsa Indonesia
Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam dan terbesar didunia merupakan sebuah daya tarik bagi Ideologi Islam dunia. Lepasnya bayang-bayang Pancasila mengakibatkan Ideologi Islam dunia memasuki wilayah Indonesia tanpa selesksi. Banyak sekali kepentingan-kepentingan negara-negara didunia yang berideologi Islam untuk menarik Indonesia dalam masalah politik dengan sentiemen agama Islam. Jika tidak waspada,bingkai wilayah yang merupakan batas-batas nasonalisme menjadi dunia tanpa batas lagi dalam era globalisasi.
Sebuah Bingkai Nasionalisme Indonesia yang mencari bentuk baru, akan mengalami benturan dan akomodatif terhadap kepentingan Nasional. Serbuan Ideologi besar dunia yang seringnya diwakili oleh kepentingan barat dan Islam jangan sampai mengakibatkan kehancuran Nasionalisme. Nasionalisme yang telah dibina lama dengan semangat Proklamasi 1945 yang sangat menghargai Pluralisme terutama dalam beragama tidak boleh hancur hanya karena sebuah kejadian dunia yang direspon secara reaktif.
Sebuah Permasalahan-permasalahan dunia Islam yang dapat diberitakan secara cepat keseluruh dunia berkat kecanggihan teknologi,diharapkan tidak membuat rakyat Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam bersikap reaktif. Terjebak dalam percaturan dunia dengan drama aksi dukung mendukung yang bersifat politis,hanya akan membahayakan rasa Nasionalime Bangsa Indonesia Perasaan Minoritas umat beragama lain haruslah dihormati dan lebih diperhatikan sebagai salah satu pemilik syah negeri ini.
Permasalahan yang dihadapi Negara Iran dalam menghadapi ketidakadilan dunia dengan mencoba menarik Indonesia dengan sentiment keagamaan harus ditanggapi secara hati-hati. Pencarian dukungan Presiden Iran kepada rakyat Indonesia yang sebagaian besar beragama Islam dengan mendekati Ormas-ormas Islam terbesar adalah sebuah upaya menarik umat beragama Islam Indonesia kedalam permasalahan dunia Islam diluar bingkai Nasionalisme. Muatan Sentimen agama harus dihindari,dengan mengarahkan kepermasalahan keadilan agar rakyat Indonesia diluar agama Islam merasa terwakili dalam memutuskan permasalahan yang berhubungan dengan Negara Iran. Sebab muatan Politis yang dibawa oleh Presiden Iran bisa mempengaruhi dan melahirkan sebuah keputusan Negara. Dimana rakyat Indonesia yang tidak semuanya beragama Islam dipaksa untuk mematuhi. sebuah keputusan yang bersandar kepada sebuah agama bukan kepentingan Nasional..
Hubungan antara Ormas-ormas Islam di Indonesia terhadap permasalahan-permasalahan politis dengan Negara yang berideologi Islam harus dipindahkan dalam hubungan bingkai keagamaan. Dimana hubungan ini harus dibina antara ulama Indonesia dengan para ulama Iran untuk saling memahami posisi masing-masing ulama dalam bingkai-bingkai Negara.
Hubungan ideologi-ideologi dunia dengan Indonesia harus dilihat sebagai sebuah semangat untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bagian dari bangsa-bangsa di dunia. Bukan membiarkan nasionalisme terseret dalam ideologi-Ideologi yang bertebaran diseluruh dunia.
Menjaga Bingkai Nasionalisme dalam keadaan dunia yang terbuka lebar,Transparan atau telanjang adalah perjuangan yang berat jika dikaitkan dengan Rakyat Indonesia yang pluralistik dan Negara Indonesia yang baru menjalani sisitem Demokrasi baru serta pencarian bentuk Nasionalisme baru. Pancasila yang telah dilihat sebelah mata menambah sebuah permasalahan baru dengan banyaknya alternative ideologi baru yang mudah dicari dengan berbagai macam bentuknya dalam era Globalisasi.
Bingkai Nasionalisme harus dijaga dengan menjadikannya sebuah dogma yang harus dipegang oleh seluruh rakyat Indonesia dan berbagai aliran di Indonesia. Didalam bingkai ini semua akan diperlakukan sama.

Mekar Wangi,Mei 2006

Tuesday, June 06, 2006

SIKAP FRAKSI PDI PERJUANGAN TERHADAP STATUS HUKUM SOEHARTO

SIKAP FRAKSI PDI PERJUANGAN DPR RI TENTANG STATUS HUKUM MANTAN PRESIDEN RI – SOEHARTO

1. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 1 dan Pasal 27 menyatakan bahwa Negara Indonesia merupakan Negara Hukum.
Amandemen terhadap UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mempertegas, bahwa penegakkan hukum mutlak harus dilaksanakan dan oleh karena itu tidak ada anggota masyarakat yang kebal terhadap hukum.
2. Menyikapi kasus hukum mantan Presiden RI – Soeharto sebagai Ketua 7 (tujuh) Yayasan yang didakwakan melakukan tindak pidana korupsi dan merugikan Negara, hendaknya proses hukum yang sedang berjalan dapat dituntaskan secepatnya. Sikap – sikap pribadi di luar lembaga peradilan yang tidak merupakan penyelesaian status hukumnya, hendaknya tidak menjadi bagian yang dapat mempengaruhi proses hukum yang sedang berjalan.
3. Fraksi PDI Perjuangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia meminta Pemerintah untuk meneruskan proses hukum yang tertunda, karena alasan kesehatan pada beberapa tahun yang lalu apabila saat ini telah dimungkinkan. Jika Pemerintah hendak menghentikan proses hukum dengan suatu keputusan politik, oleh karena alasan kemanusian atau alasan lainnya, itu bisa dianggap bertentangan dengan Konstitusi dan harus dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah.
Jakarta, 15 Mei 2006

PIMPINAN FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Ketua, Sekretaris I
ttd ttd
TJAHJO KUMOLO ZAINAL ARIFIN

(Sumber: Fraksi PDI Perjuangan DPR RI)

Tjipta Lesmana: 105 Tahun Bung Karno

http://kompas.com/kompas-cetak/0606/06/opini/2704195.htm
Selasa, 06 Juni 2006

105 Tahun Bung Karno

Tjipta Lesmana

Bertepatan dengan 105 tahun kelahirannya hari ini dan 35 tahun kematiannya sebentar lagi, apa kira-kira reaksi Ir Soekarno, salah satu Proklamator Republik Indonesia jika ia diberikan kesempatan untuk "bangkit kembali dari kuburnya" dan melihat situasi bangsa dan negara? Tidak salah lagi, air mata Soekarno akan mengucur tiada hentinya. Banyak sekali yang akan ditangisinya, tetapi yang utama adalah hancurnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia pada saat ini.

Soekarno mewariskan bangsanya dengan berbagai ajaran yang digalinya sejak ia berjuang pada usia muda. Namun, jika kita teliti secara saksama, ajaran pokok yang selalu didengung-dengungkan hingga menjelang wafatnya adalah persatuan bangsa.

Tatkala memberikan sambutannya pada sidang kabinet 15 Januari 1966 di Istana Merdeka, Presiden Soekarno bercerita, "Aku ini dari kecil mula...yang menjadi gandrung saya bahkan yang saya derita untuknya, yang saya dimasukkan dalam penjara untuknya, yang saya dibuang di dalam pembuangan untuknya, bahkan pernah yang saya hampir-hampir saja didrel mati di Brastagi...untuk bangsa, Tanah Air, kemerdekaan dan negara.... Bangsa harus menjadi bangsa yang kuat dan besar. Oleh karena itulah belakangan ini selalu saya menangis, bahkan donder-donder, marah-marah. He, bangsa Indonesia, jangan gontok-gontokan!"

Persatuan Indonesia. Itulah cita-cita paling mendasar yang diperjuangkan oleh Soekarno. Ketika Pancasila masih dalam tahap draf, persatuan Indonesia dijadikan sila pertama. Tanpa persatuan, kata Soekarno, suatu bangsa mustahil bisa maju membangun dirinya. Ia kerap menyitir ucapan Arnold Toynbee bahwa "A great civilization never goes down unless it destroy itself from within". Atau ucapan Abraham Lincoln yang tersohor itu, "A nation divided against itself, cannot stand". Mana ada bangsa yang bisa bertahan jika terpecah belah di dalamnya?

Disintegrasi total

Ketika kita mengenang 105 tahun (Soekarno lahir 6 Juni 1901) kelahiran Soekarno, Indonesia sesungguhnya sedang berjalan menuju kehancuran atau disintegrasi total. Faktor pokoknya karena bangsa ini hidup dalam situasi anomali atau valueless state. Di satu sisi kita sudah meninggalkan Pancasila sebagai pandangan hidup, walau teoritis masih mengakuinya sebagai ideologi, di sisi lain nilai penggantinya belum diformalkan. Memang kita sedang bereksperimen dengan liberalisme (plus kapitalisme sebagai anak kandungnya), tetapi banyak elemen masyarakat yang menolak ideologi tersebut.

Soekarno pasti tahu bahwa para penggantinya telah mengobrak-abrik semua jerih payah yang diperjuangkannya lebih dari setengah abad. Ketika ia "memberikan" Supersemar kepada Jenderal Soeharto, diktum pertamanya antara lain berbunyi "melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi". Namun, Soeharto dengan bantuan para pemikir dari "Mafia Berkeley", segera meninggalkan ajaran Trisakti Soekarno dengan merangkul liberalisme dalam pembangunan ekonomi. Akibatnya, semakin lama membangun dirinya, bangsa kita semakin bergantung pada utang luar negeri, suatu realita yang nyata-nyata mencederai "sakti" kedua dari Trisakti.

Setelah Soeharto jatuh, Habibie naik panggung. Di mata Soeharto, Habibie pun seorang pengkhianat. Semua orang tahu kalau Habibie anak didik Soeharto. Namun, Soeharto kabarnya menangis karena menilai Habibie menghancurkan apa yang sudah dibangunnya selama 30 tahun lebih. Dosa paling besar Habibie di mata Soeharto ialah menjalankan konsep otonomi daerah yang kebablasan. Menurut teori negara, dalam suatu unitary state (negara kesatuan), kekuasaan atau kewenangan kepada daerah sepenuhnya diatur oleh pemerintah pusat.

Ketika daerah tingkat II diberikan otonomi seperti diatur dalam UU Otonomi Daerah yang dibuat pada rezim Habibie, kendali pusat terhadap daerah pun lemah. Akibatnya, daerah kemudian menjadi "raja-raja" yang setiap saat dapat menyepelekan perintah pusat. Nasionalisme kini berganti menjadi regionalisme. Peraturan daerah (perda) kadang lebih berkuasa daripada undang-undang sekalipun. Kini tidak kurang 20 daerah, baik tingkat I maupun II, yang sudah mengeluarkan perda yang bernapaskan asas lain dari Pancasila. Toh, pusat mendiamkan saja.

Pada era Habibie itu juga, persatuan Indonesia mulai digerogoti. Sejumlah elemen radikal yang sebelumnya diburu oleh Soeharto diberikan kebebasan untuk kembali ke Indonesia. Satu per satu organisasi kemasyarakatan berasaskan ajaran radikal berdiri. Teror bom mulai bermunculan di mana-mana.

Quasi negara federal

Liberalisme seolah mencapai puncaknya pada era Gus Dur. Nama Irian Jaya diganti menjadi Papua. Gus Dur pun sempat menyatakan persetujuannya atas referendum di Aceh. Istilah "rakyat Aceh", "rakyat Riau", "rakyat Kalimantan Timur", dan "rakyat Madura" dipakai bebas tanpa menyadari implikasinya terhadap pelaksanaan sila ke-2 Pancasila.

Ironisnya, Megawati Soekanoputri pun sebenarnya telah mengkhianati bapaknya sendiri. Dosa paling besar Ibu Mega, dari perspektif Pancasila dan ajaran Bung Karno, adalah sikapnya yang mendukung amandemen Undang-Undang Dasar 1945. Hasil empat kali amandemen UUD 1945 adalah puncak kemenangan dari unsur-unsur kekuatan, baik lokal maupun global, yang memang ingin memecah belah bangsa Indonesia.

Di bawah naungan "UUD 2002", Indonesia sesungguhnya bukan lagi negara kesatuan, tetapi quasi negara federal. Di bawah pemerintahan Megawati juga, proses privatisasi digenjot habis-habisan. Hasilnya sudah sama-sama kita ketahui, sebagian besar perusahaan unggulan kita, baik swasta mupun BUMN, kini sudah dikuasai asing. Lagi-lagi suatu pengingkaran telanjang terhadap "sakti" kedua dari ajaran Trisakti Bung Karno.

Proses disintegrasi seolah mencapai momentum emas pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Tindak anarkis dan menginjak-injak hukum yang kerap dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat dibiarkan saja. Penegakan hukum kian lemah. Tancapan pengaruh asing di bidang ekonomi, antara lain dimanifestasikan dalam kasus Blok Cepu dan pencemaran lingkungan oleh Newmont, semakin kokoh. Kedaulatan kita sebagai bangsa juga merosot. Kita sungguh tidak mengerti mengapa bantuan kemanusiaan Amerika untuk korban gempa Yogya harus dikawal oleh puluhan serdadu marinir berseragam yang bersenjata lengkap layaknya mau bertempur.

Ya, Soekarno pada usianya yang 105 tahun sedang menangis dari liang kuburnya karena melihat ajaran-ajarannya diinjak-injak oleh para penerusnya!

Tjipta Lesmana Anggota Komisi Konstitusi dan Mantan Dosen Pancasila di Berbagai Universitas

Sunday, June 04, 2006

Menyegarkan Kembali Semangat, Rasa dan Paham Kebangsaan Kita

Menyegarkan Kembali Semangat, Rasa dan Paham Kebangsaan Kita
Memperingati Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945
(Pidato Pancasila Sekjen PDIP, 31 Mei 2006)

Hadirin yang saya hormati.

Merupakan sebuah kebahagiaan yang teramat besar bagi saya, berada di tempat ini, bersama saudara-saudara sekalian, sebagai sesama anak bangsa,bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila.

Hari ini, enam puluh satu tahun yang lalu, adalah hari yang bersejarah. Hari yang tidak terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ketika itu, pada hari terakhir sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang berlangsung sejak tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1945, Bung Karno menyampaikan salah satupidatonya yang paling terkenal:

Pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945.

Dalam pidato itu, Bung Karno mengemukakan gagasannya tentang dasar negaraIndonesia Merdeka, yang dinamakannya Pancasila.

Hadirin sekalian.

Pancasila, dalam pandangan Bung Karno, bukanlah sekedar simbol yang hendak membedakan kita dengan bangsa-bangsa lain yang juga sudah merdeka pada saat itu. Pancasila adalah pandangan hidup atau Weltanschauung, yang di atasnya kita mendirikan negara Indonesia. Pancasila adalah hasil perenungan BungKarno selama puluhan tahun, yang ia gali dari kedalaman budaya Nusantara dan ia persembahkan kembali ke depan altar Ibu Pertiwi, untuk menjadi dasar yang universalbagi persatuan dan kesatuan banganya.

Bung Karno menyadari benar bahwa keragaman adalah salah satu ciri mendasar bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Oleh karena itu, Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia, haruslah memberi tempat secara setara pada setiap anak bangsa - tanpa membeda-bedakan suku, etnis, agama maupun golongannya.

Ketika itu ia bertanya:

"Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya sajaIndonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang,untuk memberikan kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberikekuasaan pada satu golongan bangsawan?"...bukan negara yang demikian itulah yang kita punya tujuan. Kita hendakmendirikan suatu negara semua buat semua."

Hadirin sekalian.

Setelah enam puluh satu tahun kita merdeka, justru pada waktu-waktu sekarang inilah kita benar-benar membutuhkan Pancasila. Pancasila bukan sebagaisebuah doktrin, tetapi Pancasila sebagai jiwa serta jatidiri bangsaIndonesia.

Kita melihat pada hari ini, jiwa-jiwa asing telah masuk pada hampir semuaaspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Lewat peraturan dan perundangan,lewat gaya hidup yang terus-menerus dibentuk lewat media massa, kita menjadi semakin terasing dengan jatidiri kita sendiri.

Di satu sisi, gaya hidup "kebarat-baratan" yang merupakan produk yang tidak terpisahkan dari kapitalisme global telah diterima begitu saja, hampir tanpa filter, oleh generasi muda bangsa kita. Materialisme dan konsumerisme yang bersembunyi di balik wajah budaya "kebarat-baratan" ini telah menjadikansebagian masyarakat kita kehilangan produktifitasnya. Kehilangan dinamisme dan sikap progresifnya. Segala hal yang datang dari "barat" kita anggapsebagai yang terbaik.

Sementara itu, di sisi lain, gaya hidup "kearab-araban" pun seperti telahmenjadi alternatif di ujung pendulum yang lain di dalam kehidupan masyarakat kita. Substansi agama yang universal disamakan begitu saja dengan budayadari Timur Tengah yang sesungguhnya tidak cocok dengan kepribadian bangsakita. Yang sungguh-sungguh sangat kita sayangkan adalah, adanyakecenderungan untuk menjadikan nilai-nilai partikular dari budaya"kearab-araban" yang menjurus kepada sektarianisme ini ke dalam peraturandan perundangan kita.Padahal, kita mengetahui bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, masyarakat kita dalah masyarakat yang beragam. Yang menghargai dan memberikan hormat yang mendalam pada perbedaan. Nenek moyang kita mengetahui bahwa di balik wujud yang berbeda dan penuh aneka warna itu, sesungguhnya terdapat satu jiwa yang sama. Itulah Bhinneka Tunggal Ika!

Kita menyadari atau tidak, penerimaan yang tanpa filter terhadap budaya"kebarat-baratan" dan "kearab-araban" adalah sebuah bentuk pengingkaranterhadap nilai-nilai luhur bangsa yang mewujud dalam Bhinneka Tunggal Ikadan Pancasila. Penerimaan begitu saja terhadap budaya asing tersebut adalah pengingkaran terhadap jatidiri kita yang sejak dulu memiliki banyak warna.

Hadirin yang saya hormati.

Seringkali kita mempertanyakan tentang seperti apakah budaya Indonesia itu. Apakah budaya Indonesia itu sama dengan mengenakan blangkon atau batik?Apakah budaya Indonesia itu sama dengan mengenakan sarung, atau bahkankoteka? Budaya manakah yang bisa mewakili "Keindonesiaan" kita itu? Budaya Jawa-kah? Budaya Sunda-kah? Budaya Minang-kah? Budaya Dayak-kah? BudayaMakasar-kah? Budaya Minahasa-kah? Budaya Papua-kah? Budaya mana?Tanpa kita sadari, niat kita untuk menjadikan salah satu budaya - darisekian banyak budaya yang tumbuh dan berkembang di tanah air tercinta ini - sebagai representasi dari budaya Indonesia, justru telah menghilangkan ciri "keberagaman" dari budaya Indonesia itu sendiri. Budaya Indonesia itu adalah "keseluruhan dari kepelbagaian". Budaya Indonesia adalah taman bunga yangpenuh warna - ungkapan cinta dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Apakah kita masih bisa merasakan indahnya pelangi yang membentang di depan mata kita, apabila kita hanya memilih salah satu warna saja dari sekianbanyak warna yang membentuk pelangi tersebut? Apakah masih bisa kita disebut Indonesia, bila semua orang Indonesia mengenakan blangkon saja, atau batik saja, atau jilbab saja, atau koteka saja?

Memilih salah satu saja, dengan sendirinya akan membuat kita terjebak dalam upaya untuk melakukan "penyeragaman budaya". Dan "penyeragaman budaya"semacam itu, hadirin sekalian, bukanlah manifestasi dari "Keindonesiaan"kita. Sekali lagi, saya mau menegaskan, bahwa budaya Indonesia bukanlah"penyeragaman", tetapi "keberagaman". "Penyeragaman" atas nama apapun,bukanlah budaya Indonesia.

Oleh karena itu, dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara,tampilkanlah keberagaman atau warna-warni yang kita punya. Marilah kitadengan tegas menolak segala sesuatu yang hendak menghilangkan budaya kitayang kaya.

Sejak dahulu kala bangsa kita tidak pernah menolak budaya asing untuk masuk dan bahkan menjadi bagian dari budaya Indonesia yang dinamis. Tetapi,manakala budaya tersebut mencoba mendominasi dan hendak menyingkirkanbudaya-budaya lainnya yang telah tumbuh dan berkembang dalam taman budayaIndonesia, maka pada saat itu kita harus menolak dominasi dan upayapenyingkiran itu.

Kita tidak menolak budaya asing itu sendiri, kita menghormatinya,sebagaimana kita akan selalu menghormati nilai-nilai universal yang datang dari luar. Sebagaimana kita menghormati kemajuan teknologi dan ilmupengetahuan yang berkembang di luar.

Hadirin yang saya hormati.

Mengapakah bangsa kita menjadi demikian terpuruk, dalam waktu yang sekianlama? Kita bukannya tidak berusaha untuk membangun kembali selama ini.Segala macam upaya sudah dilakukan, segala macam resep sudah dicoba. Tetapi mengapa belum juga menampakkan hasil yang nyata?Dalam hemat saya, kita belum dapat bergeliat bangkit, karena kita belummenoleh pada jiwa atau jatidiri bangsa ini. Kita dengan sengaja melupakansejarah kita yang kaya dan mengadopsi mentah-mentah pola yang tidak memiliki akar dalam budaya kita sendiri.

Padahal, sejarah adalah masa lalu kita sendiri. Ketika kita melupakansejarah, berarti kita melupakan masa lalu kita. Dan kita tahu, bahwaseseorang yang melupakan masa lalunya, pasti takkan memiliki kejelasantentang masa depannya. Ia akan mengalami disorientasi kepribadian.

Begitu juga setiap bangsa, pasti memiliki kepribadiannya yang unik secarakolektif. Segala hal yang terbaik dari masa lalu, sesungguhnya telah menyatu dalam alam bawah sadar setiap individu dalam masyarakat bangsa itu.Nilai-nilai luhur para pendahulunya adalah energi yang tidak akan pernahmati, yang akan terus hidup dan menjadi berlipat ganda kekuatannya, manakala generasi muda bangsa itu terus menyalakan semangat di balik nilai-nilailuhur itu, dalam kehidupan mereka di masa sekarang, dan di masa yang akandatang.

Kita bukanlah bangsa yang tidak beradab. Nenek moyang kita bukanlah bangsa primitif yang baru belajar tentang kebudayaan ketika pengaruh-pengaruh asing datang masuk ke negeri kita. Tidak mungkin sebuah bangsa yang tidak memiliki budaya yang tinggi bisa menghasilkan semboyan-semboyan filosofis sepertiBhinneka Tunggal Ika serta gotong-royong. Tidak mungkin sebuah bangsa yang primitif menyebut Tanah-Airnya sebagai Ibu Pertiwi!

Nenek moyang kita mengetahui bahwa kekuasaan Tuhan adalah demikian besarnya, sehingga Ia meliputi seluruh kehidupan ini, termasuk bangsa dan negara ini. Dengan mengakui bahwa Tanah-Air adalah salah satu manifestasi-Nya, makasesungguhnya seluruh anak bangsa harus terus-menerus mewujudkankualitas-kualitas ilahi dalam dirinya, dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatannya... Sebagai individu, warga masyarakat serta warga negara.

Oleh karena itu, janganlah sekali-sekali kita melupakan sejarah. Dan kitabelajar sejarah, bukan semata-mata untuk mengagung-agungkan masa lalu yang pernah kita capai sebagai bangsa. Tetapi, lebih dari itu, lewat sejarah kita juga mempelajari kebodohan dan kepicikan yang pernah kita lakukan. Sehingga kita dapat membangun sebuah bangsa yang lebih baik dan lebih beradab di masa mendatang.

Satu lagi pelajaran penting yang dapat kita tarik dengan mempelajarisejarah, adalah bahwa sebuah peradaban yang tinggi hanya akan dapat bertahan manakala nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan bangsa itumemiliki nilai-nilai universal yang unggul. Nilai-nilai yang mampumemberikan tempat bagi semua perbedaan. Manakala nilai-nilai itu telahdikhianati, maka tinggal menunggu waktu saja baginya untuk hancur dantinggal menjadi kenangan bagi generasi mendatang. Manakala pemimpin danmasyarakat sebuah bangsa hanya mementingkan kepentingan kelompoknya yangsempit, pada saat itulah benih-benih kehancuran telah ditanamkan.

Begitu pula lewat sejarah kita mengetahui bahwa sebuah masyarakat atauperadaban yang mencoba memaksakan nilai-nilainya yang partikular kepadakelompok masyarakat yang lain, niscaya akan dihakimi oleh Sang Waktu. Tidak ada yang dapat melawan hukum alam yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta itu. Kekerasan akan berbuah kekerasan, kedamaian akan berbuah kedamaian.

Hadirin yang saya hormati.

Kalau kita sedikit saja membolak-balik perjalanan sejarah kita, maka kitaakan menemukan bahwa ada hal-hal terbaik, bahkan jenius, yang pernahdihasilkan oleh para leluhur kita. Adalah sebuah kebodohan yang luar biasa, ketika kita menemukan mutiara di dalam rumah kita sendiri, namun kita malah memilih untuk menengok batu-batuan yang tak berharga di pekarangan rumahorang lain.

Sejak dahulu kala, jauh sebelum datangnya agama-agama, kita adalah bangsayang berbudaya tinggi. Kita senantiasa mampu menghasilkan sintesa antarayang terbaik di masa lalu dan yang terbaik di masa kini. Budaya bangsa kita memiliki local genius, yang mampu melihat benang merah persatuan di antara aneka ragam wujud kebudayaan dunia. Ibu Pertiwi kita tercinta dapat menerima setiap anaknya yang datang dengan membawa agama Hindu, Buddha, Islam danKristen serta Konghucu tanpa membeda-bedakan antara yang satu dengan yanglainnya. Ia tetap mencintai anak-anaknya, meskipun ada di antara mereka yang dengan sengaja melupakan sejarah dan jatidirinya.

Hadirin sekalian.

Sejarah telah mengantar kita pada masa sekarang ini, ketika bangsa kitasedang menghadapi krisis dengan banyak wajah. Kalau kita menghadapi situasi ini dengan sikap bersungut-sungut, maka kita tidak akan pernah menjadi jaya sebagai bangsa. Namun, bila kita menganggap situasi yang serba sulit inisebagai sebuah tantangan, maka ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat berharga untuk mewujudkan kekuatan kita sebagai bangsa.

Saat ini, adalah kesempatan terbaik yang kita miliki untuk membuktikan bahwa budaya bangsa yang kita miliki memang unggul dan dapat kita terapkan dalam segala situasi. Tetapi apakah platform budaya bangsa kita itu? Bagaimanakah menemukan universalitas di balik budaya bangsa kita yang beragam itu?

Hadirin yang saya hormati.

Sesungguhnya, pucuk-pucuk kebudayaan bangsa kita telah dirumuskan oleh Bung Karno ke dalam lima sila dalam Pancasila. Inilah sebuah bukti lagi tentang local genius yang akan terus-menerus dihasilkan oleh Putra-Putri IbuPertiwi.

Sayangnya, selama puluhan tahun kita telah memperlakukan Pancasila sebagai barang mati, yang maknanya telah diputarbalikkan untuk kepentingan statusquo kekuasaan. Pancasila telah dikhianati dengan menjadikannya doktrin untuk membungkam mereka yang memiliki suara yang berbeda. Pancasila telah dibuat lumpuh, sehingga kita menjadi begitu terasing dengan dasar negara kitasendiri.

Padahal, Bung Karno telah dengan sangat jelas mengatakan bahwa Pancasilaadalah pandangan hidup bangsa kita. Sebuah tuntunan bagi kehidupan yangpraktis bagi seluruh rakyat Indonesia.

Segala macam perbedaan warna budaya Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dapat menjadi satu dan membentuk sebuah orkestra besar yang maha indah,karena kesemuanya itu dapat berdiri secara sejajar di atas dasar Pancasila.Tanpa nilai-nilai yang universal dalam Pancasila, orang Jawa mungkin bisamerasa lebih hebat daripada orang Minang. Orang Minang mungkin bisa merasa lebih superior daripada orang Jawa. Agama yang satu bisa merasa lebih hebat dari agama yang lain, dan golongan masyarakat yang satu merasa lebihberkuasa atas masyarakat yang lain.

Sesungguhnya, Pancasila adalah dasar bagi "Keindonesiaan" kita!

Tanpa Pancasila, kita akan menyaksikan keruntuhan bangsa ini. Kita akantercerai-berai dan tidak akan pernah bisa bersatu sebagai sebuah bangsa yang besar. Pancasila adalah jatidiri bangsa kita, sekaligus alat pemersatu yang tiada duanya. Oleh karena itu, mempertahankan Pancasila adalah kewajiban bagi kita seluruh anak bangsa.

Hadirin sekalian.

Marilah kita bersama-sama mencoba merumuskan satu persatu tantangan besar yang kita hadapi sebagai bangsa, dan marilah kita menyelidiki apakah benar Pancasila masih memiliki relevansi dengan persoalan-persoalan aktual yang kita hadapi sebagai bangsa.

Pertama-tama, kita menyaksikan dewasa ini adanya kecenderungan masyarakatkita yang cenderung merasa paling benar sendiri dalam kehidupan beragama.Bahkan ada kelompok-kelompok tertentu yang seolah-olah merasa mendapatkanhak dari Tuhan untuk menghakimi orang-orang yang berbeda keyakinan denganmereka. Tuhan yang mereka percayai adalah Tuhan yang pemarah yang hanya akan memberikan keselamatan pada orang-orang tertentu saja. Seolah-olahmanusia-manusia yang lain, diciptakan Tuhan hanya untuk dimusnahkan.

Alangkah sempit dan mundurnya cara pandang yang demikian. Konsep ketuhanan yang demikian jelas telah "memenjarakan" Tuhan yang maha luas serta yangmaha pengasih dan penyayang. Karena Tuhan adalah demikian agung dan besar, maka Ia sudah pasti lebih besar dari kehidupan ini sendiri. Tuhan, bahkandapat kita temui dalam setiap maha karya manusia yang lahir karena Cinta. Karena kebesaran-Nya, Tuhan pun dapat bersemayam dalam hati setiap anakmanusia.

Oleh karena itu, hubungan antara manusia dan Tuhan, adalah hubungan yangsangat-sangat pribadi. Adalah tugas negara untuk melindungi hak setiap anak bangsa untuk memilih caranya yang unik untuk dapat menghayati keilahiandalam dirinya, dan sama sekali bukan wewenang negara untuk mengatur apalagi "menyeragamkan" ekspresi setiap orang untuk mewujudkan aspekreligiositas-nya.

Sila pertama dalam Pancasila telah menegaskan hal ini dengan kalimatKetuhanan Yang Maha Esa. Bung Karno sendiri telah mengemukakan dalam pidato hari lahirnya Pancasila bahwa hendaknya kita "berketuhanan secarakebudayaan". Berketuhanan dalam pengertian yang seluas-luasnya, sebab Tuhan memang maha luas dan meliputi segalanya... Ia juga meliputi hati setiapanak-anak bangsa - sekalipun terhadap mereka yang tidak mau mengakuikemahadiran-Nya.
"Berketuhanan secara kebudayaan" mengandung arti bahwa sikap dan prilakumanusia-manusia Indonesia, dalam segala hal, hendaknya mencerminkanreligiositas dalam dirinya. Dengan begitu, ia tidak akan memikirkankepentingannya sendiri. Ia akan menghormati hak-hak orang lain, dan ia akan siap sedia berkorban bagi bangsanya.

Sesungguhnya, sila pertama ini adalah dasar bagi sila-sila berikutnya dalam Pancasila. Sila pertama ini adalah pengakuan bahwa sejak dulu kala, bangsa kita telah menempatkan dasar yang sangat kokoh bagi kehidupan masyarakatnya - itulah religiositas, inti dari semua praktek keberagamaan...Selanjutnya, kita juga menyaksikan bahwa atas nama berbagai kepentingan,diskriminasi terhadap perempuan dan kelompok yang digolongkan sebagai kaum minoritas masih saja terjadi dalam masyarakat kita. Masih adakelompok-kelompok tertentu yang percaya pada ilusi bahwa mereka mempunyaihak-hak istimewa untuk merendahkan sesamanya manusia.

Sementara dalam konteks yang berbeda, kita pun menyaksikan terjadinyakemandekan masyarakat untuk maju dan menghadapi berbagai tantangan jaman.Budaya "kebarat-baratan" dan "kearab-araban", sebagaimana yang telah kitasinggung sebelumnya, telah membuat sebagian masyarakat kita menjadi konsumen budaya asing belaka. Kita lupa akan sejarah, kita lupa akan jatidiri bangsa.Padahal, sejatinya, manusia harus terus-menerus berprogres. Maju, mencapai potensi yang setinggi-tingginya. Peradaban bukanlah sesuatu yang statis,melainkan dinamis. Terus bergerak. Dan hanya dengan jiwa masyarakat yangmaju, dapat maju sebuah bangsa.Oleh karena itu, sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab haruslahmenjadi dasar dari humanitas kita, sekaligus penuntun dalam melindungikemanusiaan serta mengembangkannya melalui berbagai bentuk pendidikan...

Berikutnya, kita mengetahui bahwa akibat lemahnya persatuan di antaraberbagai kelompok dan golongan masyarakat, telah pula munculaspirasi-aspirasi dari berbagai pihak untuk melepaskan diri dari NegaraKesatuan Republik Indonesia. Ancaman disintegrasi sosial mulai menjelmamenjadi ancaman disintegrasi bangsa.
Mungkin tidak semua dari kita menyadari bahwa betapa berbahayanya ancamanperpecahan yang sekarang ini kita hadapi. Kita adalah bangsa yang besar dan kaya dengan berbagai macam sumber alam kita, baik di darat maupun di laut. Satu saja bagian dari wilayah NKRI yang terlepas, maka akan terlepas pulawilayah perairan kita yang luas. Lalu, dengan seenak-enaknya, berbagaikpentingan asing dapat masuk dan menjarah wilayah perairan kita yang telah berubah menjadi "perairan internasional".


Perpecahan bangsa adalah kehancuran bagi kita semua. Kita tidak mungkinmemberikan kontribusi bagi terciptanya perdamaian dunia, ketika di dalamnegeri sendiri, di dalam rumah kita sendiri, kita tidak mampu bersatu danmenciptakan perdamaian itu. Kita tidak akan cukup punya bargaining position dengan bangsa-bangsa yang lain, bila kita rela untuk terpecah-belah.Oleh karena itu, sila Persatuan Indonesia adalah dasar bagi nasionalitasyang akan selalu relevan bagi kita semua. Demi menghormati perjuangan para founding fathers bangsa kita yang telah mengorbankan seluruh energi, bahkan nyawanya, bagi kemerdekaan Tanah Air kita tercinta, marilah kitamengencangkan tali persatuan kita pada saat ini. Hanya dengan begitu kitaakan menjadi bangsa yang jaya!

Hadirin sekalian yang saya muliakan.

Kita sama-sama telah menyaksikan bahwa terdapat demikian banyak kemajuandalam praktek kita berdemokrasi saat ini. Pemilihan presiden hingga padapemilihan RT/RW telah diselenggarakan secara langsung. Namun demikian,sebagian dari kita belum lagi menyadari bahwa demokrasi yang berciriIndonesia, bukanlah "pemilihan langsung" semata-mata.

Di atas mekanisme demokrasi yang kita adopsi dari Barat itu, terdapatnilai-nilai kita sendiri yang lebih tinggi, yaitu "musyawarah, mufakat dan hikmat-kebijaksanaan". Kita harus mengakui bahwa sistem perwakilan danpemilihan langsung oleh rakyat adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan otoritarianisme yang hanya memberikan kuasa pada satu orang ataukelompok saja.

Namun, kita kini dapat melihat sendiri bahwa mekanisme pemilihan langsungserta perwakilan saja, tidak akan membawa kualitas yang lebih baik dengansendirinya. Tanpa adanya "musyawarah dan mufakat yang berdasarkanhikmat-kebijaksanaan", demokrasi dengan mudah dapat menjadi anarki.

Oleh karena itu, sungguh membanggakan hati kita semua, bahwa para pendirinegara kita telah memikirkan hal ini dengan sangat masak. Sila kempat,Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat-Kebijaksanaan dalamPermusyawaratan/Perwakilan adalah ciri pembeda demokrasi Indonesia dengansistem demokrasi lainnya. Sovereinitas yang sempurna...

Terakhir, kita melihat bahwa orientasi pembangunan bangsa yang selama inikita lakukan, masih jauh dari pemenuhan kesejahteraan rakyat - di bidangekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Masyarakat secara umum masihteralienasi dengan kebijakan-kebijakan pembangunan yang tidak menyentuhmereka. Pertumbuhan ekonomi, ternyata tidak dengan sendirinya memiliki dampaklangsung bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Malahan, rakyat menjadimakin terbebani dengan melambungnya harga bahan bakar minyak serta berbagai kebutuhan pokok mereka.

Kita sama sekali tidak anti terhadap modal asing maupun perdagangan bebas. Namun, semua itu hanyalah sarana penunjang untuk mencapai tujuan menciptakan kesejahteraan masyarakat yang berdasarkan keadilan. Perekonomian rakyatharuslah dilindungi, dan masyarakat sendiri harus diberdayakan, agar menjadimandiri. Menjadi subjek, bukannya sekedar objek yang pasif dari pembangunan.

Oleh karena itu, sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia adalah sebuah pernyataan yang sangat tegas, tentang arah pembangunan bangsa kita, tentang aspek sosialitas yang harus terus-menerus kita wujudkan secara bersama. Pembangunan yang menolak penghisapan oleh sekelompok kecil masyarakat "yang berada" kepada kelompok masyarakat yang lebih besar namun miskin...

Hadirin sekalian yang saya hormati.

Kita telah sama-sama melihat bahwa Pancasila bukanlah ideologi negara yang harus diletakkan demikian tinggi dan mengawang-awang. Benar bahwanilai-nilai yang terkandung di dalamnya adalah demikian tinggi atau luhur.Namun, secara praktis, setiap nilai dalam Pancasila sesungguhnya adalahpenuntun bagi kita semua dalam bertindak dan membangun bangsa - ya, kitasemua... warga masyarakat, partai politik, pemerintah, parlemen sertasegenap aparatur negara.

Pancasila adalah dasar bagi pembangunan karakter dan bangsa kita - nationand character building - dalam membangun segenap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari religiositas, humanitas, nasionalitas,sovereinitas dan sosialitas.

Alangkah hebatnya! Dasar dari nasionalisme atau kebangsaan kita, adalahsebuah dasar yang humanis dan memberikan rasa aman dan nyaman bagi semuaorang.

Hadirin sekalian yang berbahagia.

Saya teringat dengan pidato Bung Karno yang sangat terkenal, yang diberinama To Build the World Anew. Tanggal 30 September 1960, di muka Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, dengan bangga Bung Karno berbicara tentang Pancasila.Ia berkata demikian:Saya percaya, bahwa ada jalan keluar dari konfrontasi ideologi-ideologi ini. Saya percaya bahwa jalan keluar itu terletak pada dipakainya Pancasilasecara universil!

Siapakah di antara Tuan-Tuan menolak Pancasila? Apakah wakil-wakil yang terhormat dari bangsa Amerika yang besar yang menolaknya? Apakah wakil-wakil dari bangsa Rusia yang besar yang menolaknya? Ataukah wakil-wakil yang terhormat dari Inggris atau Polandia, atau Perancis atau Cekoslovakia...?

Lihat, lihatlah delegasi yang mendukung saya! Delegasi itu bukan terdiri dari pegawai-pegawai negeri atau politikus-politikus profesional. Delegasi ini mewakili bangsa Indonesa. Dalam delegasi ini ada prajurit-prajurit.Mereka menerima Pancasila, ada seorang ulama Islam yang besar, yangmerupakan sokoguru bagi agamanya. Ia menerima Pancasila...

Mereka bukannya menerima Pancasila semata-mata sebagai konsepsi ideologibelaka, melainkan sebagai suatu pedoman yang praktis sekali untuk bertindak.Mereka di antara bangsa saya yang menjadi pemimpin tapi menolak Pancasila,ditolak pula oleh bangsa Indonesia...

Saya yakin, ya, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa diterimanya kelima prinsip itu dan dicantumkannya dalam piagam akan sangat memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya yakin, bahwa Pancasila akan menempatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejajar dengan perkembangan terakhir dari dunia. Saya yakin bahwa Pancasila akan memungkinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menghadapi hari kemudian dengan kesegaran dan kepercayaan.

Akhirnya, saya yakin bahwa diterimanya Pancasil sebagai dasar piagam, akanmenyebabkan piagam ini akan diterima lebih ikhlas oleh semua anggota, baikyang lama maupun yang baru...
Bangunlah dunia ini kembali! Bangunlah dunia ini kokoh dan kuat dan sehat!Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai danpersaudaran. Bangunlah dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita umatmanusia...

Siapakah di antara kita yang tidak bangga, mengetahui bahwa Pancasila dengan gagah berani pernah ditawarkan oleh Bung Karno untuk menjadi dasar dariPiagam PBB?

Hadirin sekalian yang saya hormati.

Dengan modal kebanggaan inilah, kita harus menyegarkan semangat, rasa danpaham kebangsaan kita - saat ini juga. Sekali lagi, kita harus melakukannyabersama-sama! Jangan lupa bahwa Bung Karno sendiri yang menyatakan bahwaPancasila yang diperas menjadi Ekasila, adalah sama dengan gotong-royong.Sebuah upaya dan kebersamaan yang dinamis.

Dan untuk mewujudkan kebersamaan itu, kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Artinya, kita tidak boleh berharap bahwa perubahan karakter harus terjadi lebih dahulu pada orang lain. Kalau kita telah memberi teladan, maka dengan sendirinya, orang lain akan mengikuti. Kita harus menuntut diri kita sendiri, dengan berpedoman pada Pancasila, untuk bangkit... bangkit sebagai individu, sebagai warga masyarakat, sebagai warga negara, bahkan sebagaiwarga dunia.

Hadirin sekalian.
Sebelum mengakhiri penyampaian saya ini, ijinkan saya untuk sekali lagimengutip pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, tentang bagaimana kita harus merealisasikan Pancasila:

Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa tidak ada satuWeltanschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengansendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan - menjadi realiteit - jika tidak dengan perjuangan!...Janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan!Marilah kita sama-sama berjuang. Marilah kita sama-sama bangga menjadi orang Indonesia!

Terima kasih. ***


( ----- Original Message -----
From: "[Binyo] Wandy N. Tuturoong" <binyo@….>
Sent: Friday, June 02, 2006 7:07 AM
Subject: [mediacare] FW: Pidato Pancasila Sekjen PDIP (31 Mei 2006)